Kumpulan Artikel Penuh Inspirasi

31 March 2011

Detik-Detik Sakaratul Maut Rasulullah SAW

Filed under: Artikel,Cerita Motivasi — planetmotivasi @ 9:32 PM

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat

kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai

menguning,burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah,

“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan

bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al

Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak

orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh

menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan

berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman

menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat

itu telah datang, saatnya sudah tiba.

“Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala

itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.

Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap

Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.

Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik

berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih

tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan

keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,

“Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,

“Siapakah itu wahai anakku?”

 

“Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya,

 

” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang.

“Ketahuilah, dialah Yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,

” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril

tak ikut menyertai.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah persiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan

suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata jibril.

Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:

‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya,” kata Jibril.

detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”

Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.

 

“Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

 

” Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi.

 

“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.

 

” Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.

 

“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu.

” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku”

Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan kepada sahabat-2 muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencinta kita. Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

7 Comments »

  1. Subhanallah……Rosululah yang sdh dijamin masuk surga saja masih merasakan dahsyatnya rasa sakit ketika dicabut rohnya…bagaimana dengan kita yang selalu mementingkan dunia daripada akhirat… astagfirullah hal azim….

    Comment by Agus Budi Santoso — 18 January 2012 @ 1:34 PM | Reply

  2. Subhanallah……Rindu kami pada mu Ya Rosul….

    Comment by widi — 9 March 2012 @ 4:24 PM | Reply

  3. aku ingin bertetangga dengan mu disurga wahai rasulku dan meminum air telaga mu tapi sebenrnya aku lebih ingin bertemu denganmu disana..aamiin.jadikanlah aku sebagai salah satu umatmu yg engkau cintai juga >.<

    Comment by ima — 19 October 2012 @ 9:27 PM | Reply

  4. subhanallah…

    Comment by Ismail Maqbul — 11 November 2012 @ 12:03 PM | Reply

  5. .. jungjunglah hambamu yang lemah ini kesurgamu ya allah dan pertemukanlah aku beserta kaum kaum muslimin muslimah yang lainnya di surga nanti Amin ya allah…

    Comment by yasri — 25 September 2013 @ 8:28 PM | Reply

  6. subhanaallah,,, aku mencintaimu ya rasullallah,

    Comment by vera akhak — 19 February 2014 @ 2:49 PM | Reply

  7. masha Allah..
    netes air mata baca kisah ini..
    semoga kita menjadi manusia yg dicintai oleh manusia yg kita cintai ini..
    aamiin..

    Comment by dimas — 11 February 2015 @ 5:04 PM | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: