Kumpulan Artikel Penuh Inspirasi

17 February 2010

Penjara Batin

Grace histeris dan menjerit sekuat tenaga dalam pelukan suaminya, saat petugas bersiap-siap untuk menutup peti mati . Ia tidak sanggup melihat tubuh Stenly, anak laki-laki satu-satunya. Tubuh anak 11 tahun itu terbujur kaku dan diam. Grace terus meronta-ronta. Menangis lalu berteriak lagi. Dalam pelukan suaminya, ia hanya bisa melampiaskan kesedihan, kemarahan, dendam dan semua perasaan serta emosi yang bergejolak. Ia merasa sangat terpukul mendapatkan anak satu-satunya begitu cepat menghadap Tuhan dengan cara yang tragis.“Sebelum peti ditutup dan dibawa ke pekuburan, kami memberikan kesempatan terakhir untuk Ko Liem dan Ci Grace, juga kaum keluarga yang hadir untuk melihat anak, saudara, teman dan sahabat kita Stenly, untuk yang terakhir kalinya” ucap pastor Lius yang memimpin misa perkabungan siang itu
“Koko……, mama disini koko… koko lihat mama!” tangan perempuan itu berusaha menggapai peti. Tubuh Stenly tak bergeming. Sedikit senyuman terhampar di bibirnya, seolah ia mendengarkan tangisan ibunya. Lagu-lagu rohani yang dinyanyikan jemaat membuat suasana semakin haru. “Koko…., koko lihat mama….lihat mama sayang…lihat mama disini!” Grace memegang pipi anaknya dan menangis lagi

“Koko sudah mau jalan? Koko ngga sayang mama? Nanti mama temanin koko ya?” tangisan Grace semakin kuat. Ko Liem merangkul istrinya. Ia kemudian mencium dahi anaknya. “Selamat jalan sayang, papa sayang koko.” Air mata lelaki itu menetes dan membasahi dahi anaknya

Beberapa kerabat keluarga dan jemaat yang hadir, tidak bisa membendung air mata yang mengalir melihat saat-saat mengharukan itu. Apalagi saat petugas liturgi memberikan kesempatan kepada siswa-siswi SD Katolik Rafael membawakan lagu “You Raise Me Up” untuk melepaskan teman sekolahnya itu menuju pekuburan.

“When I am down, and oh my soul so weary
When troubles come, and my heart burdened be
Then I am still and wait here in the silence
Until you come and sit awhile with me.

You raise me up so I can stand on mountains.
You raise me up to walk on stormy seas.
I am strong when I am on your shoulders.
You raise me up to more than I can be.”

Tiga hari yang lalu, 1 Februari 2010, peristiwa tragis itu terjadi. Ko Liem dan istrinya Grace sedang keluar kota untuk menghadiri pernikahan anak salah seorang kenalan mereka. Di rumah sekaligus toko, hanya Stenly seorang diri. Pencuri yang menyangka rumah itu kosong, ternyata kaget karena melihat Stenly yang memergokinya. Merasa terdesak, pencuri itu akhirnya menghabisi nyawa Stenly, sebagai satu-satunya saksi dalam peristiwa itu. Polisi bekerja cepat. Selama seminggu, akhirnya pencuri itu berhasil dibekuk.

————————————————

Biara Karmel, 13 Februari

Grace mengusap air matanya. Ia tertunduk lagi. Rambutnya terurai jatuh menutup wajahnya. Tubuhnya semakin kurus semenjak puteranya Stenly meninggal. Suster Agatha yang duduk disamping Grace, merangkul dan membelai kepala Grace dengan lembut. Ia biarkan Grace menangis. Bagi Grace, air mata mungkin adalah sebuah emosi jiwa yang keluar dalam bentuk gumpalan-gumpalan bening. Tidak ada cara lain selain menangis, menangis dan menangis lagi. “Sus…teeeer… kenapa saya harus mengalami hal seperti ini sus teeeer? Kenapa suster?” suara Grace tersendat-sendat dalam pelukan Suster Agatha Suster Agatha tidak menjawab pertanyaan Grace. Ia membiarkan prempuan 38 tahun itu larut dalam tangisannya

Grace segera melepaskan rangkulannya saat tak ada lagi air mata yang menetes. Wajahnya suram dan pucat. Ia merapikan beberapa helai rambut yang terurai jatuh menutupi wajahnya. Suster Agatha menggeser kursinya di samping Grace.

“Grace, ada banyak hal dalam hidup ini merupakan sebuah misteri, yang kita tidak pernah tahu. Dunia memang begitu kejam dan kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai, adalah hal yang paling menyedihkan dalam hidup ini” Suster Agatha memegang tangan Grace dengan hangat. “Tapi saya belum rela suster…saya sangat mencintai Stenly!” suara Grace tersendat-sendat. “Yahhhh….suster sangat memahami dan mengerti perasaanmu!” jawab Suster

“Lalu saya harus bagaimana suster? Saya ngga bisa tidur, pikiran saya hanya untuk Stenly dan bahkan saya pernah berniat untuk mati saja!” Grace memandang wajah Suster Agatha. “Grace, kalau kamu mati, toh itu tidak akan mengembalikan anakmu kan? Hidup bukan cuma untuk hari ini!” Suster Agatha tetap menjawab dengan penuh kasih. “Tapi ini berat sekali suster, saya sudah berusaha berdoa, tapi kenapa saya ngga bisa tenang?” Grace tetap menunjukkan keputusasaannya. “Benar Grace, memang berat. Tapi, sampai kapan kamu akan terus seperti itu? Secara ngga sadar, justru kamu yang sedang dalam penjara daripada pelaku pembunuhan itu!” Ucapan Suster Agatha cukup mengejutkan Grace

“Maksud sus..ter?” wajah Grace bingung. “Orang yang di dalam penjara itu, selalu penuh kecemasan, ketakutan, kekhawatiran dan segala macam perasaan-perasaan bersalah….”. “Dan kamu juga sebenarnya mengalami hal yang sama seperti pembunuh itu….takut setelah anakmu meninggal, hidupmu nanti bagaimana? Dendam karena kamu ngga bisa menerima kenyataan ini!” Suster Agatha memberi penjelasan dengan bijak. “Tapi itu yang memang saya rasakan suster…dan saya ngga bisa bohong dengan semua hal itu!” Grace menyela

“Yang paling menakutkan itu justru manusia yang hidup dalam penjara batin Grace!” jawab Suster Agatha sambil memperbaiki posisi kacamatanya. “Lalu…saya harus bagaimana suster?” tanya Grace. “Manusia hanya dapat bebas dari penjara batin dengan kekuatan cinta….kekuatan cinta untuk melepaskan dan mengampuni!” Suster Agatha berdiri dan mengambil sebuah buku kecil dari dalam lemari kerjanya. “Ta..tapi saya sudah berusaha suster, saya sudah berusaha untuk merelakan dan mengampuni, tetapi jika saya mengingat-ingat lagi semua kejadian itu, saya lemah lagi suster!” mata Grace berkaca-kaca

“Kenapa cobaan ini begitu berat suster?” air mata Grace mengalir. Suster Agatha merangkul Grace sekali lagi dan membelai kepala Grace dengan penuh kasih. Ia biarkan Grace hanyut dalam dekapannya. “Grace…ingatlah satu hal yang sangat penting…. engkau boleh kehilangan cintamu dan sesuatu yang berharga dalam hidupmu, tetapi kasih dan cinta Tuhan tidak akan pernah berlalu dalam hidup kita. Dalam keadaan apapun, engkau tetap berharga di mata-Nya”. “Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa langit akan selalu biru dan laut kan selalu tenang. Semua manusia tentu saja akan menghadapi berbagai cobaan dan masalah. Tetapi, kalau kita menyerahkan dan berdoa dalam tangan Tuhan, mungkin, dalam setiap kelemahan itu, kita akan selalu kuat” Suster Agatha membelai Grace dengan penuh kasih”

“Bawalah terus di dalam doa, pergumulan hidupmu ini. Jika hari ini engkau belum bisa mengampuni, tidak mengapa…coba lagi esok, dan seterusnya..sampai engkau benar-benar tulus dan merelakan semuanya!”. “Sus..terrrrrr……. tolong kuatkan saya sus..ter….. tolong saya sus..ter!” tangis Grace. Suster Agatha membiarkan Grace menangis. “Suster akan terus membantumu dalam doa, agar engkau tetap diberikan semangat dalam menjalani hidupmu kedepan. Suamimu masih membutuhkan engkau untuk menatap masa depan yang lebih baik kan?”. “Tetap bersyukurlah Grace dalam segal hal. Inilah cinta yang sebenarnya. Dalam perisitiwa yang menyakitkan pun, kita harus bisa tegar dan kuat karena kekuatan cinta. Jika engkau dan suamimu bisa melewati semua hal ini, kalian lebih dari seorang pemenang!”

“Bawalah buku kecil ini. Bacalah sebelum kamu berdoa. Tuhan memberkatimu selalu” Suster Agatha menyerahkan sebuah buku doa untuk Grace.. “Terima kasih suster….” Jawab Grace. Saat itulah, ko Liem berdiri di depan pintu. “Ajaklah suamimu untuk berdoa sejenak di Kapel sebelum kalian pulang!” Suster Agatha berdiri dan melayangkan senyum untuk Ko Liem yang datang menjemput Grace

——————————————-

13 Februari 2010, 22.00 WIB

Grace membuka pintu kamar Stenly anaknya. Ia lalu menggandeng tangan suaminya. Mereka berdua masuk ke dalam kamar itu. Saat melihat foto anaknya, Grace tak kuasa membendung air matanya. Ia memeluk suaminya. “Sudahlah ma….toh semuanya sudah terjadi. Kita percaya, bahwa koko sudah tenang di atas sana bersama Tuhan” Ko Liem menenangkan istrinya. “Iaaa…ia…pa…!” jawab Grace dengan suara serak. “Koko…. Papa dan mama mau berdoa buat koko yaaaa….. !” Grace menatap foto anaknya yang sedang tersenyum. Ia lalu merapikan kamar anaknya. Mematikan lampu dan keluar lagi bersama suaminya.

Mereka berdua menuju sebuah ruangan kecil yang biasanya dibuat khusus sebagai ruang doa. Tangan Grace memegang Rosario. Sebelum berdoa, ia teringat akan sebuah buku yang diserahkan oleh suster Agatha tadi pagi. Ia membuka dan membaca lembaran demi lembaran buku kecil itu, sampai akhirnya ia terhenti dan membaca sebuah refleksi yang cukup menguatkan.

Musuh utama manusia adalah dirinya sendiri
Kegagalan utama manusia adalah kesombongan
Kebodohan utama manusia ialah sifat menipu
Kesedihan utama manusia adalah iri hati
Kesalahan utama manusia adalah mencampakkan dirinya dan orang lain
Sifat manusia yang terkasih adalah rendah hati
Sifat manusia yang paling diuji adalah semangat dan keuletannya
Kehancuran terbesar manusia adalah rasa keputusasaan
Harta utama manusia adalah kesehatan
Utang terbesar manusia adalah utang budi
Hadiah utama manusia adalah sifat lapang dada dan mau memaafkan
Kekurangan terbesar manusia adalah sifat berkeluh kesah dan tidak memiliki kebijaksanaan

Ketentaraman dan kedamaian manusia hanya ditemukan di dalam doa”. Grace membuka lagi lembar selanjutnya dan terhenti pada kata-kata lain yang tertulis dengan indah pada buku kecil itu. “Pandanglah masalah dengan mata iman. Penilaian manusia, tidaklah sama dengan penilaian Tuhan. Bagi manusia, masalah adalah beban, tetapi bagi Tuhan, itu sebuah cobaan agar dapat bertumbuh dalam kedewasaan iman. Sesuatu yang pahit dan menyakitkan, belum tentu tdak berguna”.

“Berterima kasihlah kepada orang yang telah mencelakai anda, saat itu anda akan marah, tetapi suatu ketika, justru ia telah melatih kegigihan anda dengan kesalahannya itu.Berterima kasihlah kepada orang yang telah menipu anda, saat itu anda akan marah, tetapi suatu saat, anda telah belajar untuk menambah wawasan dan pengalaman anda untuk tidak ditipu. Berterimakasihlah kepada orang yang mencambuk anda, karena ia telah membuat anda berlari sangat kencang, melebihi kecepatan normal anda. Berterima kasihlah kepada orang yang telah menjatuhkan anda karena ia telah menguatkan kemampuan anda. Berterima kasihlah kepada orang yang telah memarahi anda kerena ia telah membantu menumbuhkan ketenangan dan kebijaksanaan anda. Berterima kasihlah kepada semua orang yang telah mmembuat anda kuat, tegar, kokoh, bebas dari penjara batin, terlepas dari keputusasaan dan membuat anda berhasil”

Grace menutup buku itu dan menggandengan tangan suaminya. Mereka berdua berlutut. “Tuhan, hidup kami selanjutnya, kuserahkan dalam tangan kasih-Mu”

—————————————–

14 Februari

Saat sebagian orang terbawa dalam romantisme cinta Valentine day, Grace bersama suaminya menuju kantor polisi. Di dalam mobil, suaminya masih menanyakan tekad Grace untuk pergi ke kantor polisi. “Mama yakin, kalau ini keputusan terbaik? Menjenguk orang yang membunuh koko?” tanya Ko Liem. “Setelah kita berdoa semalam, mama sudah yakin pa!” jawab Grace. “Kenapa pa?” Grace menatap suaminya. “Engga…papa hanya takut nanti mama kenapa-kenapa..!” jawab Ko Liem sambil membelokan mobilnya masuk ke halaman kantor polisi. “Mama ngga akan pernah takut kalau mama mengandalkan Tuhan di samping mama!” jawab Grace tersenyum. Ko Liem mematikan mesin mobilnya dan memegang tangan istrinya dengan hangat

Setelah masuk ke kantor polisi, Ko Liem meminta izin agar istrinya dapat bertemu dengan pelaku yang membunuh anak mereka. Awalnya agak kesulitan, karena pihak kepolisian tidak menghendaki akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tetapi, setelah Grace meyakinkan pihak kepolisian, akhirnya mereka menyetuji, tetapi dengan syarat, harus didampingi oleh petugas yang berjaga. Pihak kepolisian akhirnya sepakat, mereka bertemu di sebuah ruangan kecil, bukan di dalam penjara. Grace dibiarkan masuk bersama suaminya. Mereka berdua duduk didalam ruangan kecil itu. Dua petugas polisi berjaga-jaga di depan pintu.

Ko Liem memegang tangan Grace dengan hangat.

“Tuhan..tolong bantu aku..tolong kuatkan aku ya Tuhan,,beri aku kekuatan ya Tuhan untuk melihat orang ini dengan penuh kasih!” Grace menutup matanya dan berdoa di dalam hati. Dan saat-saat yang mendebarkan itu terjadi. Seorang remaja masuk dengan tangan yang diborgol. Badannya kurus. Tubuhnya pendek. Ia tertunduk saat dipersilahkan duduk, tepat dihadapan Grace dan suaminya. Dua petugas polisi berdiri di belakang remaja itu. Grace menggigil. Sekarang ia telah berhadapan dengan orang yang telah membunuh anak satu-satunya. Suaminya menatap remaja itu dengan wajah merah. Sepertinya ia marah dan dendam. Tetapi, ia berusaha tenang

“Tuhan….bantu aku….kuatkan aku Tuhan….!” sekali lagi Grace menutup mata dan berdoa di dalam hatinya. Ia membuka matanya. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Siapa namamu nak?” tanya Grace memecah kebuntuan dan kekakuan. Remaja itu tertunduk lemah. Ia tidak berani menatap wajah Grace dan suaminya

“Ferdi tante!” ia menjawab singkat dan lirih. “Oh..nak Ferdi…umur kamu berapa sekarang?” tanya Grace dengan tenang. “16 !” remaja itu tetap menjawab singkat tanpa berani mengangkat wajahnya. Grace menarik nafas panjang dan menatap suaminya.

“Hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

h!”

“Bagaimana mungkin remaja 16 tahun ini, yang kelihatan lugu adalah pembunuh anakku?” tanya Grace di dalam hatinya. “Kamu tinggal dimana Ferdi?” tiba-tiba suara Ko Liem membuat pertanyaan lain. “Saya ngga punya rumah, ngga punya keluarga oom!” jawab Ferdi. “Maksudnya?” Grace memajukan kursinya. “Dia anak panti asuhan milik yayasan sebuah Gereja bu..” suara petugas polisi yang berdiri di belakang Ferdi memberi penjelasan

“Ohhhhhh…….” Grace menarik nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya di kursi

Pikirannya melayang jauh, teringat akan anaknya, teringat akan kata-kata suster kemarin pagi, teringat akan doanya semalam dan kini di depannya, seorang remaja yatim piatu yang menjadi pembunuh anaknya sendiri. “Tuhan….kuatkan aku sekali lagi!” Grace berdoa lagi di dalam hatinya

Tiba-tiba Ferdi mengangkat wajahnya

“Maafkan saya, oom..tante…saya ngga sengaja membunuh anak oom dan tante…waktu dia memergoki saya mengambil uang, ia menarik baju saya, saya hanya spontan saja menendang ia dan ia terjatuh dari tangga!”. “Maafkan saya oom..tante….saya ngga pernah bermaksud membunuh….!” Tiba-tiba air matanya jatuh. “Tuhan…aku tahu Engkau ada saat ini menatap aku….berikan aku kekuatan lagi Tuhan… kuasai pikiranku, mulutku agar aku mampu mengasihi dan mengampuni ya Tuhan….” Grace menutup matanya lagi

Spontan saja Grace berdiri dan memeluk Ferdi.

“Aku memaafkanmu nak…..aku memaafkanmu nak” jawab Grace lirih dan ia tak kuasa membendung air matanya. Ko Liem berdiri, diam dan terpaku menatap peristiwa itu. Dalam perjalanan pulang, air mata Grace tetap mengalir. “Tuhan…..terimakasih….karena kekuatan cinta-MU, aku bisa membebaskan diriku dari penjara batin ini” Grace menaikkan doanya di dalam hati. Mereka berdua terdiam. Tiba-tiba suara Grace memecah kebuntuan. “Pa…bisa ngga kalau kita mengusahakan Ferdi bebas dan mengangkat dia menjadi anak kita?” Grace menatap suaminya dengan senyuman. Ko Liem menatap istrinya dengan penuh tanda tanya

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: