Kumpulan Artikel Penuh Inspirasi

6 October 2009

Nilai Sebuah Kehidupan

Entah siapa yang memberitahunya alamat saya, ia tiba-tiba sudah berdiri di hadapan saya. Seorang sahabat lama yang sudah hampir sepuluh tahun tidak pernah bertemu, perawakannya tidak ada yang berubah mulai dari cara bersisirnya hingga cara berpakaiannya. Bahkan jika saya tidak salah ingat, pakaian yang dikenakannya saat itu adalah pakaian sehari-hari yang saya lihat sepuluh tahun yang lalu. ia bersepatu, tetapi saya tak sanggup menatap lama-lama sepatunya itu, hanya karena khawatir ia tersinggung jika saya menatapnya lama. Sebuah tas gemblok lusuh menempel di punggungnya, selusuh celana panjang yang warna hitamnya sudah memudar.

Sebut saja Mino, ia langsung membuka tangannya berharap saya memeluknya sama hangatnya seperti dulu setiap kali kami bertemu. Tentu saja saya menyambut haru tangan terbukanya itu, kami pun berpelukan hangat dan cukup lama. Aroma matahari cukup menyengat dari tubuhnya tak membuat saya ingin melepaskannya, semerbak kerinduan diantara kami telah mengalahkan segalanya. Mino, lelaki seusia saya itu bergetar hebat meski hanya beberapa menit kami berpelukan, saya merasa ada tetesan air di pundak saya. “Sudah jadi orang hebat sahabatku ini rupanya…” bibirnya bergetar.

Setelah berbicara sedikit tentang perjalanan masa lalu, saya agak iseng menanyakan keluarganya. Mino langsung tertegun, membuat saya merasa bersalah melepaskan pertanyaan itu. Bibirnya seperti hendak bergerak mengatakan sesuatu, tetapi yang terdengar hanya gumaman yang tak jelas. “Maaf jika saya menyinggung perasaanmu…” kalimat saya dipotong cepat, “Ooh tidak, tidak apa-apa…”

Beberapa detik kemudian saya mampu membaca pikirannya, “Apa yang bisa saya bantu No?” Wajahnya sumringah mendadak, senyum yang sudah lama tak pernah saya lihat, yang saya lihat terakhir kali sepuluh tahun lalu itu. Sambil menepuk pundak saya ia pun berseloroh, “Orang sukses seperti kamu pasti bisa membantu saya untuk keluar dari persoalan kehidupan ini…”

Saya mendengarkan kisahnya, tentang usaha reparasi komputernya yang bangkrut sehingga ia menjalani hari-hari tanpa penghasilan sepanjang hampir tiga tahun. Tentang hidupnya yang terus nomaden karena tak sanggup membayar biaya kontrakan, kontrakan terakhirnya yang ia tempati saat ini pun sudah menunggak tiga bulan dan diberi ultimatum satu bulan lagi untuk segera melunasinya. Belum lagi soal biaya masuk sekolah untuk anaknya yang sama sekali tak ia sanggupi.

Dalam benak saya, “Mungkin ia akan meminjam atau meminta bantuan sejumlah uang yang cukup besar”. Kadang saya berlaku sok pahlawan, ingin membantu seseorang walaupun kondisi sering tidak memungkinkan untuk membantu maksimal. Namun rupanya dugaan saya salah, Mino hanya meminta sedikit dari yang saya kira, itupun meminjam. “Saya mau pinjam uang dua puluh ribu, bolehkah?” tanyanya hati-hati, mungkin ia khawatir saya tak bisa meminjaminya.

Saya tersenyum, dua puluh ribu tentu saja bukan lagi pinjaman. Dalam kebiasaan saya, yang namanya pinjaman itu nilainya bisa sampai jutaan. “Begini No, kalau dua puluh ribu saya tidak mau meminjamkannya, tapi saya akan memberikannya kepadamu… ikhl…” saya batalkan menyebut kata ini. Bahkan saya memberi lebih dari yang dimintanya, meski kemudian Mino bilang bahwa yang saya berikan itu statusnya tetap pinjaman. Saya bilang, “itu pemberian” dia bilang, “ini pinjaman”, saya menyudahi perdebatan soal status itu dengan menyerah pada kegigihannya untuk tetap “meminjam”, bukan “meminta”.

Dua bulan sudah saya tak mendengar kabar darinya. Entah apa yang bisa dilakukannya dengan uang yang tak seberapa itu. Hingga beberapa hari lalu, saya mendapat pesan singkat dari seseorang, “Saya ingin kembalikan lima puluh ribu yang saya pinjam tempo hari”. Saya bingung siapa yang mengirim pesan singkat tersebut karena namanya tidak tertera, setelah saya tanya siapa yang mengirimnya, terkirim lagi satu pesan singkat, “Ini Mino, maaf tidak bisa balas sms lagi soalnya pakai hape teman”.

Saya putuskan untuk menelepon langsung nomor tersebut dan berbicara dengannya. Saya sudah katakan bahwa uang itu bukan pinjaman, tetapi hadiah. Namun ia tetap bersikeras ingin mengembalikannya. Cerita ia, hari itu juga setelah mendapat uang dari saya ia langsung membeli satu dus air mineral untuk dijual satuan. Habis satu dus, ia membeli lagi, dijual lagi dan begitu seterusnya. Sehingga satu bulan kemudian ia punya sedikit uang untuk dijadikan modal berdagang ala kadarnya. Tidak hanya itu, ia pun terselamatkan dari usiran pemilik kontrakan karena mulai bisa menyicil biaya kontrakan yang tertunggak. “Alhamdulillaah, saya masih punya sahabat yang memerhatikan…” ujarnya dari seberang telepon.

Ingin sekali saya bertemu lagi dengan sahabat saya itu, kali ini saya akan memeluknya lebih lama dan lebih erat meski saya tahu aroma mataharinya lebih menyengat dari yang saya reguk sekitar dua bulan lalu. Hati ini jelas berbunga-bunga, ada haru yang terus menyelimuti dinding-dinding jiwa ini selepas pembicaraan di telepon itu. Masih terngiang di telinga saya ketika ia hanya ingin meminjam dua puluh ribu rupiah, jauh dari dugaan saya sebelumnya. Namun dua puluh ribu yang ingin ia pinjam itu adalah sebuah nilai kehidupan bagi seorang Mino.

Dua puluh ribu rupiah, bagi sebagian kita hanyalah senilai sebungkus nasi di warung padang saat makan siang. Tetapi bagi orang seperti Mino adalah kehidupan panjang bagi ia, isteri dan dua anaknya. Dua puluh ribu bagi sebagian kita tidak cukup untuk uang jajan sehari anak-anak kita, namun bagi Mino berarti senyum panjang isteri dan anak-anaknya. Dua puluh ribu rupiah yang bagi sebagian kita sering dianggap recehan, namun bagi seorang Mino adalah nilai kehidupannya yang sangat berarti.

Sahabat, tahukah arti dua puluh ribu rupiah miliki Anda??

Sumber : Bayu Gawtama (http://solifecenter.com)

About these ads

35 Comments »

  1. waaaaahhh …….mantap abis …
    bikin’ nangis aja ……

    Comment by mezos' unhy — 24 October 2009 @ 8:38 AM | Reply

    • makasih yachh….

      Comment by planetmotivasi — 15 November 2009 @ 2:33 PM | Reply

  2. makasih dah mengajari arti kehidupan mas bayu, aq nyari bukunya mas bayu susah sekali, ada rekomendasi mas

    Comment by teguh ginanjar — 13 November 2009 @ 6:02 AM | Reply

    • kebetulan ini ga da buku ny…..

      Comment by planetmotivasi — 15 November 2009 @ 2:22 PM | Reply

  3. gw sedih , nangis

    Comment by syaiful — 14 November 2009 @ 5:22 AM | Reply

    • jgn lp bc artikel yg laen jg…ok…

      Comment by planetmotivasi — 15 November 2009 @ 2:18 PM | Reply

  4. Mantap. .

    Comment by Indrawati — 16 November 2009 @ 12:25 AM | Reply

  5. Di tunggu yh,, crita” slanjut’a,, hehhe

    Comment by Istiani Sofiatunnisa — 2 February 2010 @ 8:54 AM | Reply

  6. sangat memberi arti…

    Comment by alisadikin — 15 February 2010 @ 3:30 PM | Reply

  7. sumpah nyentuh banget dihati,makasih ya udh berbagi pengalaman

    Comment by puput — 11 May 2011 @ 2:12 PM | Reply

  8. Subhanallah….sangat menyentuh sekali

    Comment by widi — 9 March 2012 @ 5:43 PM | Reply

  9. Terharu,,,

    Comment by Dian — 31 March 2012 @ 8:51 AM | Reply

  10. terharruuuuuuuu,bsakah q pnya shbt sprty it??????///////hiks”

    Comment by fatmi v v — 4 May 2012 @ 11:15 PM | Reply

  11. terharuuu

    Comment by husna — 9 August 2012 @ 10:01 PM | Reply

  12. terharuuu

    Comment by V'j — 10 September 2012 @ 2:37 PM | Reply

  13. subhanallah…

    Comment by Rahmad Andri Supriadi — 12 November 2012 @ 9:50 PM | Reply

  14. subhanallah, allah akan selalu memberikan jalan keluar pada setiap kesulitan jika kita juga mau berusaha, ikhlas dan jujur

    Comment by dwi — 13 November 2012 @ 9:46 PM | Reply

  15. Bagus bgt cerita,mengingatkan kita akan arti pentingnya sahabat..

    Comment by herri — 23 November 2012 @ 7:22 PM | Reply

  16. Sebuah inspirasi baru untuku,,

    Comment by Nila — 1 December 2012 @ 2:07 PM | Reply

  17. itu sangat menginspirasi saya untuk tidak menyia-nyiakan sesuata hal yang kecil

    Comment by mbahbeng — 17 December 2012 @ 1:21 AM | Reply

  18. boleh minta artikelnya gak mas.., terharu bacanya

    Comment by arief — 29 December 2012 @ 7:35 PM | Reply

  19. wih keren artikel nya gan…

    Comment by Bhuz — 1 February 2013 @ 10:57 AM | Reply

  20. Subhanallah, artikel nya sangat mmeberi saya inspirasi.
    Sesuatu yang kecil, sangatlah berharga.
    saya terharu (y)

    Comment by Cindy Efriolita Sari — 21 February 2013 @ 8:32 PM | Reply

  21. setelah baca artikel ini terharu perasaan saya..
    good, i like it your artikel..

    Comment by anik120693 — 22 February 2013 @ 10:16 AM | Reply

  22. subhanallah sangat terharu saya,

    Comment by Wahyu Miftahul A — 23 April 2013 @ 8:08 PM | Reply

  23. suatu cerita yg penuh inspirasi dan bermakna….

    sampe2 terharu membacanya……

    sukses selalu….

    Comment by nando — 20 May 2013 @ 7:07 PM | Reply

  24. keren…

    Comment by Cara Menyembuhkan Amandel — 21 June 2013 @ 4:00 PM | Reply

  25. ijin copas :)

    Comment by Nanireni — 29 August 2013 @ 7:55 PM | Reply

  26. keren banget ceritanya,,,,,,,,,,

    Comment by rudi — 25 September 2013 @ 7:38 AM | Reply

  27. Ijin copas ya :-)

    Comment by billy orenz — 12 October 2013 @ 4:00 PM | Reply

  28. Ijin copas ya ;-D

    Comment by Rendy Piter — 19 October 2013 @ 1:56 PM | Reply

  29. Ijin copas ya

    Comment by Krisna Indra — 13 November 2013 @ 12:33 PM | Reply

  30. sangat menginspirasi bro…butuh lebih banyak penulis berkualtas seperti mas bayu.

    Comment by robby — 8 January 2014 @ 11:53 PM | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Rubric Theme Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 113 other followers

%d bloggers like this: